Home / Topik / Became an Investor / ETF: Tekan Resiko Raup Gain

ETF: Tekan Resiko Raup Gain

foto: pialang indonesia

Dalam investasi ada ungkapan semakin besar imbal hasil (yield) maka akan mendatangkan risiko yang besar pula. Meski demikian ada satu jenis investasi yang sudah menjadi trend di beberapa bursa global dan saat ini tengah dikembangkan di pasar modal Indonesia.

Instrumen investasi ini bernama exchange traded fund (ETF). Bagi investor di Indonesia, ETF memang belum banyak dikenal seperti layaknya efek lain seperti saham, obligasi atau reksa dana.

Menurut aturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No. IV.B.3 definisi ETF adalah reksa dana berbentuk kontrak investasi kolektif yang unit penyertaannya dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagaimana halnya reksa dana konvensional, dalam ETF terdapat pula Manajer Investasi (MI) dan Bank Kustodian.

Salah satu keunggulan utama ETF adalah investor dapat mengambil untung (gain) dari peluang kenaikan pasar dengan cepat.

Jika didiamkan, produk investasi ini hanya mendatangkan imbal hasil yang tidak jauh berbeda dengan kenaikan indeks yang menjadi aset dasarnya (underlying asset). Namun jika investor mampu mencari waktu yang tepat (timing), maka imbal hasil yang diperoleh lebih besar dari kenaikan Indeks dengan risiko investasi yang lebih kecil ketimbang instrumen investasi lain.

Kinerja ETF mengacu pada suatu acuan indeks tertentu, sama halnya dengaan reksa dana Indeks yang bertujuan memperoleh imbal hasil yang sama dengan indeks yang menjadi acuannya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menginvestasikan aset ETF bergerak setara dengan pergerakan indeks (full replication), atau minimum 80% sama dengan indeks (stratified sampling) ke dalam saham-saham penyusun indeks tersebut.

Keuntungan dan Kerugian

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa investasi di produk ETF lebih mennguntungkan dibanding investasi di produk lainnya, seperti reksa dana saham konvensional.

Berikut adalah beberapa fakta yang mungkin bisa menjadi pertimbangannya. Pertama, reksa dana yang telah mengungguli pasar di masa lalu tidak menjamin pengulangan di masa depan. Sejumlah penelitian menunjukkan dengan jelas bahwa reksa dana dengan kinerja unggul di masa lalu belum tentu mengungguli pasar beberapa tahun ke depan.

Banyak investor telah menyimpulkan mereka lebih memilih tidak mengambil risiko dan mendapatkan imbal hasil optimal dari hasil rata-rata reksa dana indeks.

Kedua, dana yang dikelola secara aktif pasti menelan biaya manajemen tahunan yang lebih tinggi dan memiliki profil pajak keuntungan modal lebih buruk karena banyak melakukan aktifitas transaksi.

Investor memang dapat membeli reksa dana secara langsung sehingga tidak harus mengeluarkan biaya broker (brokerage fee) jual dan beli (umumnya 0,2% beli, 0,3% jual). Namun jangan lupa, ada biaya manajemen tahunan yang biasanya akan lebih tinggi pada reksa dana indeks sekitar 1% dan reksadana saham tradisional maksimum 3%. Selain itu, investor juga dikenakan biaya subscription maksimum 2% dan biaya redemption maksimum 2%. Namun yang paling membedakan, investor hanya dapat membeli atau menjual pada harga penutupan perdagangan.

Ketiga, ketika indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan mendadak, investor reksa dana tentu tidak dapat menarik dananya (redemption) untuk meminimalisir kerugian dan kembali masuk ketika posisi IHSG sudah mencapai dasarnya demi mendapatkan keuntungan ketika IHSG berbalik arah (rebound).

Sementara bagi investor yang memiliki portofolio saham, memang dapat menarik dananya ketika pasar sedang jatuh. Namun siapa yang bisa menjamin saham tersebut akan kembali naik setelah mengalami kejatuhan cukup dalam?

Disinilah keuntungan dari produk ETF. Sebagai bagian dari strategi berinvestasi, ETF dapat mengurangi risiko fluktuasi saham individual karena telah terdiversifikasi dengan optimal. ETF dapat memberikan fleksibilitas yang tinggi karena Nilai Aktiva Bersihnya (NAB) divaluasi setiap saat sehingga memberikan transparansi. ETF juga memberikan keleluasaan transaksi setiap saat bagi investor karena diperdagangkan di Bursa.

Keunggulan utama ETF adalah investor dapat mengambil untung (gain) dari peluang kenaikan pasar dengan cepat sekaligus menghindari kerugian dengan cara keluar dari pasar hanya dengan satu klik/order. Beberapa keunggulan lainnya adalah mudah mengikuti perkembangannya karena hanya melihat kepada indeks.

Selain itu, imbal hasil ETF tidak tergantung pada kehebatan MI karena seluruh portofolio dan bobot alokasinya serupa dengan portofolio dan bobot alokasi dari asset yang membentuk indeks. Kalau saham suatu perusahaan mendapat bobot alokasi terbesar di indeks LQ-45, maka ETF LQ-45 harus membeli saham perusahaan tersebut lebih banyak.

Meski demikian ada beberapa kelemahan dari produk investasi ini. Kelemahan pertama adalah investor tidak dapat memilih saham yang bisa dikoleksi dalam ETF walaupun diketahui ada saham yang imbal hasilnya jauh mengungguli indeks. Kelemahan kedua , di dunia saat ini ada ribuan ETF dari semua sektor dari berbagai negara. Bahkan ada beberapa ETF yang dikeluarkan oleh dua fund manager global dengan menggunakan underlying asset Indeks LQ45

ETF luar negeri dengan underlying asset saham-saham di Indonesia adalah ETF iShares MSCI Indonesia Investable Market Index Fund dengan ticker: EIDO. ETF ini diperjualbelikan di bursa NYSE ARCA. NYSE ARCA adalah pemimpin pasar dalam hal platform untuk ETF dengan kode EIDO. ETF ini dikelola oleh BlackRock Fund Advisors dengan total dana kelolaan dari ETF ini adalah USD344,55 miliar.

Sedangkan ETF luar negeri dengan underlying asset saham-saham di Indonesia adalah Market Vectors Indonesia Index yang dikelola oleh Van Eck. ETF ini aktif ditransaksikan di bursa NYSE ARCA dengan kode MVINDOTR. Aset yang dikelola oleh ETF ini adalah USD519,7 miliar.

Namun investor juga harus waspada ketika ada ETF yang menggunakan produk derivatif sebagai sarana lindung nilainya. ETF ini didesain untuk memberikan imbal hasil lebih dari satu kali return dari indeks yang menjadi underlying asset-nya.

Produk ETF di Indonesia

Saat ini ada dua fund manager Indonesia yang telah menerbitkan produk ETF. Reksa dana ABF IBI Fund yang diterbitkan Bahana TCW Investment Management dan reksa dana Premier ETF LQ45 yang diterbitkan Indopremier Securities. Namun dua produk ini tidak aktif ditransaksikan di BEI karena market maker tidak aktif mentransaksikan kedua produk ini.

Pada produk ETF di beberapa negara, keberadaan market maker memang penting untuk menjaga likuiditas transaksi. Selain itu, satuan nilai unit produk yang terlalu banyak membuat nilai beli per satuan produknya tidak terjangkau investor. Sebagai contoh reksadana Premier ETF LQ45 yang diterbitkan Indopremier Securities yang memiliki nilai satuan unit sebesar 10 juta unit atau sekitar Rp 6 miliar – Rp 7 miliar per unit kreasi.

Indopremier berencana mengembangkan produk ETF yang dimilikinya. Beberapa cara yang digunakan oleh Indopremier adalah menurunkan nilai satuan unitnya menjadi hanya 100 ribu unit per unit kreasi. Artinya, jika dibeli di pasar perdana, maka per unit kreasi, investor hanya cukup mengeluarkan dana sekitar Rp 68 juta untuk bisa mengoleksi ETF yang beraset dasar 45 saham terlikuid di IHSG.

Presiden Direktur Indopremier Investment Management, John D. Item, mengatakan Indopremier sudah menggunakan sistem teknologi informasi yang menghubungkan setiap unit yang dilepas oleh investor dengan sistem di BEI. “Jadi investor tidak perlu khawatir ETF yang dilepas tidak diserap pasar karena dengan terhubung dengan sistem perdagangan di BEI maka secara otomatis unit yang dilepas akan menjadi saham biasa yang sudah pasti likuid di transaksikan,” jelas John.

Begitu pula sebaliknya, ketika investor ingin membeli ETF di pasar primer maka sistem perdagangan di Indopremier langsung mengakumulasi poin per saham untuk dikumpulkan menjadi satu unit kreasi. Sementara, jika investor ingin membeli di pasar sekunder, maka tinggal memberikan penawaran untuk setiap lot yang diinginkan.

Anda tertarik berinvestasi di ETF?

Perbedaan antara ETF dengan Reksa Dana Open Ended

Fitur

ETF

Reksa Dana Open – Ended

Manajemen Portofolio

Dikelola secara pasif

Dikelola secara aktif

Biaya pengelolaan

Komisi Broker (0,19% untuk beli & 0,29% untuk jual)

2% entry fee, 1% switching fee, 2% exit fee

Cash Drag

Tidak perlu menyediakan likuiditas karena dilakukan secara in-kind

Investasi dalam kas 2%-6% untuk menjaga likuiditas

Biaya Pajak

Rendah karena perputaran portofolio rendah

Tinggi (pajak capital sebesar 0,1% wajib dibayarkan setiap saham dijual di Bursa.

Perdagangan

Diperdagangkan di Bursa Efek selama jam bursa

Melalui MI atau Agen Penjual

Minimum Investasi

Tidak ada

Bervariasi (masing-masing RD)

Harga

Khusus Reksa Dana ETF LQ45 mengikuti trend kenaikan / penurunan indeks LQ45 & juga terdapat premium / discount atas Bid / Offer untuk disesuaikan dengan permintaan pasar

Ditentukan oleh NAB RD

Pengumuman Harga

Ditampilkan secara berkesinambungan oleh Bursa Efek selama jam perdagangan

Diumumkan satu kali oleh MI berdasarkan perhitungan NAB

Market Making

Hampir semua ETF mempunyai market maker (Liquidity Provider)

Tidak ada

Efek Derivatif

Beberapa ETF memiliki option dan atau futures atas underlying berupa indeks atau ETF itu sendiri

Tidak ada

Keunggulan ETF

No. ETF (INDEKS LQ45)

1. Unit Penyertaan (UP) diperdagangkan di BEI (lebih likuid)

2. Subscription & Redemption hanya diperbolehkan untuk Dealer Partisipan dan Sponsor

3. Gangguan Redemption yang dapat mempengaruhi NAB jauh lebih kecil

4. Portfolio dalam saham lebih transparan (saham LQ45)

5. Trend kenaikan NAB mengikuti trend kenaikan indeks LQ45

6. Minimum jumlah investasi nasabah jauh lebih kecil (1 lot saham = sekitar Rp 500 ribu)

About news editoria

Foto wajah Jean Paul Sartre ini hanyalah samaran belaka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *