Home / Referensi / Pendekatan Chart Pattern Analysis : History Repeat Itself

Pendekatan Chart Pattern Analysis : History Repeat Itself

Salah satu dasar teori analisis tehnikal adalah prinsip “History repeat itself” yang berasal dari teori Dow. Teori yang berasal dari kompilasi editorial Charles H. Dow di Wallstreet Journal ini menjadi dasar dari pendekatan chart pattern analysis. Berdasarkan pendekatan ini, ditemukan pola-pola chart yang sering berulang dan akhirnya menjadi acuan dalam memperkirakan arah pasar selanjutnya. History Repeat Itself

Encyclopedia of Chart Pattern

Bulkowski dalam bukunya “Encyclopedia of Chart Pattern” menuliskan lebih dari 60 pola grafik yang bisa menunjukkan kecenderungan arah harga bullish, bearish atau netral. Studinya ini berdasarkan 38,500 contoh kasus dari 500 saham bursa di Amerika dengan data historis 1991-2004. Dan hasilnya, selain mendukung pola-pola di buku klasik-nya Magee “Technical Analysis of Stock Trends” yang pertama kali ditulis di tahun 1940, juga menambah data statistik mengenai keberhasilan/kegagalan dari masing-masing pola chart tersebut.

Belakangan teori ini seolah mendapatkan dukungan ilmiah dari temuan kelompok behaviour finance, yaitu kelompok psikolog yang mempelajari perilaku manusia dibidang keuangan. Kelompok yang mendapat hadiah Nobel dibidang ekonomi pada tahun 2002 ini, menyimpulkan bahwa perilaku manusia dibidang keuangan seringkali berulang pada saat mendapatkan informasi atau stimulus yang serupa dan dapat diperkirakan. Faktor ini kelihatannya yang mengakibatkan munculnya pola-pola grafik yang mirip.

Salah satu pola yang barangkali banyak diingat kalangan pemodal di Bursa Efek Indonesia adalah pengaruh teror bom terhadap pergerakan indeks harga saham gabungan, bahkan juga terjadi saat tragedi 911 dengan hancurnya World Trade Center di New York. Ketika muncul berita buruk itu, maka indeks cendrung akan anjlok tajam akibat kepanikan para investor yang mengkhawatirkan pengaruh bom tersebut bagi keamanan investasi mereka. Namun, setelah investor memahami bahwa kecil sekali bahkan tidak ada pengaruh teror bom tersebut terhadap perkembangan ekonomi dan emiten di bursa, maka indeks kembali menguat.

Pola-pola Terkenal

Beberapa pola yang terkenal adalah Doble top/bottom, tripple top/bottom, head & shoulders, cup & handle, flag, triangle dan lain-lain. Pola yang sifatnya continous (melanjutkan tren sebelumnya) adalah flag, pennant. Pola reversal termasuk Doble top/bottom, tripple top/bottom, head & shoulders, cup & handle. Sedangkan rectangle, triangle dan wedge punya dual fungsi, bisa reversal maupun continuous.

Oleh karena banyaknya tipe chart pattern (lebih dari 60 jenis menurut Bulwosky), ada tujuh delapan yang penting diketahui dalam mempelajari chart pattern ini . Pertama, Chart pattern terbentuk dalam pola non-trend setelah sebelumnya ada trend kuat (naik atau turun). Kedua, pahami betul dimana batas support dan resistance di masa non-tren ini, yang akan membentuk chart pattern. Ketiga, apakah akan menjadi continuation atau reversal, bukanlah hal penting. Yang penting break outnya dimana, di resitancenya ataukah di supportnya? Break resistance (batas atas) akan menunjukkan arah trend selanjutnya adalah bullish. Sebaliknya, break bawah akan menjadi bearish.

Pullback

Keempat, setelah break (atas atau bawah), seringkali terjadi gerakan berbalik arah mendekati level yang baru di break, sebelum melanjutkan gerakan searah break out nya menuju target. Gerakan balik ini disebut pull back (kadang dipisah jadi pullback setelah break bawah dan throwback setelah break atas). Kelima, target kenaikan atau penurunan dihitung sebesar ukuran pattern (jarak support-resistance), dihitung dari level break out. Contohnya, bila pattern doble bottom berukuran Rp1.200 (jarak bottom ke peak diantara bottom itu, atau jarak support-resistance), dan break di Rp3.700 maka kemungkinan target kenaikan adalah 3700+1200 atau Rp4900. Angka target jangan dianggap satu titik, tapi satu level area kurang lebih 10% dari target.

Keenam, setelah mencapai level target, maka harga akan fluktuasi dulu (bisa bentuk pattern baru) sebelum terlihat arah pergerakan harga selanjutnya. Ketujuh, pattern dianggap gagal, jika pullback terjadi berlebihan dan mendorong harga masuk ke dalam pattern yang sebelumnya sudah ditinggalkan. Delapan, kadang-kadang, kita bisa melihat beberapa pola terjadi bersamaan, karena terlihatnya suatu pola juga dipengaruhi oleh persepsi psikologis si analis. Oleh karena itu, dalam menggunakan chart pattern, kita harus selalu siap dengan batas resiko.

*) Muhamad Alfatih, CFTe

About news editoria

Foto wajah Jean Paul Sartre ini hanyalah samaran belaka.

Check Also

Kamus Pasar Modal

Kamus Pasar Modal Beberapa istilah yang sering didengar ketika mulai memasuki dunia pasar modal : …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *